Bcnews.id, JAKARTA — Nama Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Imam Widodo tercatat sebagai salah satu perwira tinggi Polri yang memiliki perjalanan panjang di lingkungan Brigade Mobil (Brimob). Kariernya dibangun dari penugasan operasional hingga dipercaya memimpin Korps Brimob Polri sebagai Komandan Korps Brimob (Dankorbrimob).
Lahir di Malang, Jawa Timur, pada 22 September 1967, Imam Widodo merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1989. Sepanjang pengabdiannya, ia banyak berkiprah di bidang Brimob dan menempati sejumlah posisi strategis, termasuk di lingkungan Gegana.
DARI LAPANGAN OPERASI MENUJU PIMPINAN KORPS
Sebelum mencapai puncak kariernya sebagai Dankorbrimob, Imam Widodo melewati berbagai jenjang penugasan. Ia pernah menjabat Kapolres Tanjungpinang, kemudian Wadansat Brimob Polda Metro Jaya pada 2008, serta Dansat Brimob Polda Aceh pada 2010.
Kariernya kemudian semakin lekat dengan satuan khusus Brimob. Pada 2013 ia dipercaya sebagai Danden Gegana Korbrimob Polri, kemudian pada 2017 menjabat Danpas Gegana Korbrimob Polri.
Setelah itu, Imam mendapat amanah sebagai Analis Kebijakan Utama Bidang Brigade Mobil Korbrimob Polri pada 2019, sebelum dipercaya memimpin Pasukan Pelopor Korbrimob Polri pada 2020.
Pada April 2023, Imam Widodo dipercaya menjadi Wakil Komandan Korps Brimob (Wadankorbrimob) Polri, setelah sebelumnya menjabat Danpas Pelopor.
Tidak lama kemudian, tongkat komando Korps Brimob berpindah ke tangannya.
MEMIMPIN KORPS BRIMOB
Pada Oktober 2023, Kapolri menunjuk Imam Widodo sebagai Dankorbrimob Polri, menggantikan Komjen Pol. Anang Revandoko yang memasuki masa purna tugas. Penunjukan tersebut tercantum dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2360/X/KEP./2023.
Imam kemudian menyandang pangkat Komisaris Jenderal Polisi, atau jenderal bintang tiga. Kenaikan pangkat dari Irjen menjadi Komjen tersebut juga tercatat dalam agenda kenaikan pangkat Pati Polri.
Di bawah kepemimpinannya, Korps Brimob menghadapi berbagai dinamika tugas keamanan nasional. Dalam sejumlah kesempatan, Imam menekankan pentingnya kemampuan, kesiapan personel, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Brimob.
Dalam arahannya kepada peserta pelatihan di Pusdik Brimob pada Januari 2025, Imam menegaskan pentingnya para calon pemimpin Polri mengenal fungsi Brimob dan terus mengasah kemampuan agar mampu menjalankan tugas sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat.
JEJAK OPERASI: SEROJA, ACEH HINGGA NEMANGKAWI
Sebelum berada di jajaran pimpinan tertinggi Korbrimob, Imam Widodo juga memiliki pengalaman penugasan operasi. Sejumlah sumber profil menyebut ia pernah terlibat dalam penugasan seperti Operasi Seroja, penanganan konflik di Aceh, hingga Operasi Nemangkawi di Papua.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang perwira yang sejak awal kariernya banyak bersentuhan dengan tugas-tugas Brimob.
Pada 2019, Imam juga disebut pernah dipercaya sebagai Kepala Operasi Nemangkawi, operasi kepolisian yang dilaksanakan di Papua dalam menghadapi kelompok bersenjata.
DARI GEGANA KE PUNCAK KOMANDO
Karier Imam Widodo memiliki satu benang merah yang kuat: Brimob dan satuan khusus.
Pengalaman sebagai Danden Gegana dan kemudian Danpas Gegana menempatkannya dalam lingkungan satuan yang memiliki kemampuan khusus, termasuk penanganan ancaman bom dan bahan peledak.
Karena rekam jejak tersebut, Imam kerap dikaitkan dengan kompetensi Jibom (Penjinakan Bom) dan pengalaman panjang di lingkungan Gegana. Namun, penyebutan gelar atau kualifikasi khusus seperti “Teknisi Jibom Utama Tk. I” sebaiknya dicantumkan apabila terdapat dokumen atau sumber resmi yang secara eksplisit mengonfirmasi gelar tersebut.
Yang dapat dipastikan dari sejumlah sumber terbuka adalah bahwa Imam pernah menduduki posisi Danden Gegana Korbrimob Polri pada 2013 dan Danpas Gegana Korbrimob Polri pada 2017, sebelum melanjutkan karier ke posisi strategis lainnya di Korbrimob.
DERETAN TANDA JASA DAN PENGHARGAAN
Pengabdian panjang Imam Widodo juga ditandai dengan sejumlah tanda jasa dan penghargaan.
Berdasarkan profil yang dipublikasikan SINDOnews, penghargaan yang tercatat antara lain:
- Bintang Bhayangkara Nararya
- Satyalancana Pengabdian 8 Tahun
- Satyalancana Pengabdian 16 Tahun
- Satyalancana Pengabdian 24 Tahun
- Satyalancana G.O.M VII
- Satyalancana Dharma Nusa
- Satyalancana Seroja
- Satyalancana Operasi Kepolisian
- Satyalancana Bhakti Buana
- United Nations Transitional Authority in Cambodia (UNTAC) Medal.
Deretan tersebut menggambarkan panjangnya masa pengabdian Imam Widodo, baik dalam penugasan di dalam negeri maupun misi internasional.
PUNCAK KARIER DAN MASA PURNA TUGAS
Sebagai Dankorbrimob, Imam Widodo menjadi bagian dari sejarah kepemimpinan Korps Brimob yang dipimpin oleh perwira berpangkat bintang tiga.
Ia memimpin Korps Brimob sejak Oktober 2023 hingga memasuki masa purna tugas pada September 2025. Dalam sertijab yang dipimpin Kapolri pada 30 September 2025, posisi Dankorbrimob kemudian diserahkan kepada Irjen Pol. Ramdani Hidayat, yang sebelumnya menjabat Wakil Dankorbrimob.
Dengan demikian, perjalanan Imam Widodo di tubuh Polri dapat dilihat sebagai perjalanan seorang perwira yang meniti karier dari penugasan kewilayahan, satuan Brimob, Gegana, Pasukan Pelopor, hingga akhirnya dipercaya berada di pucuk pimpinan Korps Brimob.
JEJAK YANG DITINGGALKAN
Dari lapangan operasi hingga ruang komando, perjalanan Imam Widodo memperlihatkan panjangnya pengalaman seorang perwira Brimob dalam menjalankan berbagai penugasan.
Gegana, Pelopor, operasi keamanan, hingga kepemimpinan Korps Brimob menjadi rangkaian penting dalam perjalanan kariernya.
Bagi Korps Brimob, masa kepemimpinan Imam Widodo merupakan salah satu bagian dari regenerasi kepemimpinan di tubuh pasukan yang memiliki mandat menghadapi situasi keamanan dengan tingkat risiko tinggi.
Kini, setelah memasuki masa purna tugas, nama Komjen Pol. (Purn.) Imam Widodo tetap tercatat dalam perjalanan panjang Korps Brimob Polri—seorang perwira Akpol 1989 yang sebagian besar kariernya dibentuk oleh pengalaman di lingkungan Brimob dan satuan khusus.
