Bcnews.id, SEMARANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah menyoroti maraknya konten di media sosial yang dinilai memicu keraguan masyarakat untuk mengikuti Sensus Ekonomi 2026. Beredarnya narasi yang mengaitkan sensus dengan kepentingan perpajakan disebut menjadi salah satu penyebab munculnya penolakan terhadap petugas sensus di lapangan.
Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak benar. Menurutnya, data yang dihimpun dalam Sensus Ekonomi 2026 semata-mata digunakan untuk kepentingan statistik sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan, bukan untuk pemeriksaan maupun penarikan pajak. Seluruh data responden juga dijamin kerahasiaannya sesuai ketentuan perundang-undangan.
Ali mengungkapkan, algoritma media sosial membuat berbagai konten mengenai sensus mudah tersebar luas. Sayangnya, sebagian masyarakat menerima informasi tersebut tanpa melakukan verifikasi, sehingga muncul kekhawatiran yang tidak berdasar terhadap proses pendataan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, BPS Jawa Tengah terus menggencarkan sosialisasi secara langsung dengan melibatkan perangkat RT, RW, pemerintah kelurahan, hingga kecamatan. Langkah itu dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi yang benar sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Meski terdapat sejumlah penolakan, Ali menegaskan kondisi tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat dan tidak bersifat masif. Hingga akhir Juni 2026, jutaan responden di Jawa Tengah telah berhasil didata, sementara proses sensus masih berlangsung hingga 31 Agustus 2026 dengan target seluruh sasaran pendataan dapat tercapai.
BPS juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi serta memastikan petugas yang datang membawa identitas resmi. Partisipasi masyarakat dinilai sangat penting karena hasil Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi fondasi dalam penyusunan kebijakan ekonomi, pengembangan investasi, dan berbagai program pembangunan yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.
